Asia

Review Hasil Workshop Keramik di Yogya

July 16, 2020

Hai hai! Kemarin sempat cerita sedikit tentang pengalaman ikutan kelas tembikar, ceritanya bisa dibaca di sini. Tulisan kali ini, selain saya mau mengingat proses yang terjadi selama tiga kali pertemuan di Buntari Studio Yogya, saya juga mau mengulas (kecil-kecilan) hasil akhirnya. Untuk jadi proses pembelajaran diri sendiri dan semoga bisa berguna juga untuk kamu. 

Kalau kamu berencana ikutan workshop keramik (di manapun), sebaiknya kamu sudah punya visual yang cukup jelas tentang bagaimana hasil akhir yang kamu mau. Bisa dengan browsing di internet, atau lihat-lihat di studio. Temukan contoh yang lumayan mirip, dan komunikasikan dengan baik ke instruktur tentang karya yang ingin kamu buat. Sebetulnya mau tanpa konsep juga tidak apa-apa kalau kamu memang lebih suka seperti itu, tapi—untuk saya, dengan adanya rencana di awal, barang yang dibuat lebih bermanfaat/punya nilai di hidup saya. Dan proses membuatnya jadi lebih jelas, gak keseringan galau di tengah jalan hehe. 

Teknik Throwing

  • Piring Kecil Mandala dan Piring Upil Bersinar

Dua piring ini sama saja teknik membuatnya, bedanya, selain ukuran, yang Upil saya pahat di bagian dalamnya. Dibuat tulisan Upil dan dibuat garis-garis seperti sinar. Kenapa bikin dua piring yang sama? Ini dikarenakan ketika membuat piring kecil Mandala, saya baru tahu kalau setelah proses firing/pembakaran, ukuran benda akan susut sekitar 10% haha. Jadi piring yang Mandala terlalu kecil untuk ukuran ‘jadi’ yang saya bayangkan. Bikin satu lagi deh.

Piring kecil Mandala awalnya didekorasi dengan menggambar sketsa mandala dengan pensil. Setelahnya, sketsa pensil ditutup menggunakan kuas, seperti melukis, dengan warna merah. Ternyata hasilnya lumayan juga, walaupun beberapa goresan kuas saya mleyot-mleyot, tidak halus. Sisanya dibiarkan natural warna tanah. Piring Mandala dan Piring Upil dilukis setelah proses pembakaran pertama, yang disebut juga bisque fire, atau bakar biskuit (selalu pengin ketawa kalau dengar kata: bakar biskuit haha). Setelah itu diberikan glaze yang transparan glossy. Oh ya, si piring kecil Mandala, ada retak sedikit setelah firing kedua. Masih aman untuk dipakai makan kue kering. 

Untuk piring Upil, awalnya disemprot dengan warna biru untuk dasar, lalu setelahnya dilakukan pewarnaan menggunakan kuas untuk garis-garis sinar dan tulisan Upil-nya. Warna biru yang terdapat di garis-garis sinar dan tulisan Upil, dihapus terlebih dahulu supaya proses pengecatan menggunakan kuas lebih mudah (tidak seret). Setelah itu, piring juga diberikan glaze transparan glossy

  • Cangkir Kecil

Cangkir ini adalah pembelajaran membuat handle/pegangan cangkir bagi saya. Saya baru tahu kalau sesama tanah ketika mau ditempel, harus digaret-garet dulu seperti tempe pas mau bumbuin untuk bikin tempe goreng. Setelah digaret-garet, diberikan lem ‘lumpur’/slip, baru ditempelkan. Setelah handle ditempelkan/disambung ke badan cangkir, harus dibuat lilitan dengan tanah liat sekeliling sambungan untuk lebih memastikan tempelan/sambungan handle dan badan cangkir aman. Terus dijemet-jemet haha, diratakan sambungannya tadi. 

Dengan cangkir ini saya juga belajar beberapa bentukan shaping dan trimming. Proses dekorasi cangkir ini gagal karena saya tidak menangkap dengan baik apa yang disampaikan oleh Mas Sidik. Rencana awal, mau dibuat seperti kesan dua warna mencampur secara natural, dan seperti buih-buih air di pantai gitu. Seharusnya saya totol-totol dengan kuas keseluruhan gelas dengan warna cream terlebih dahulu, baru ⅔ bagian bawahnya ditutup dengan totolan warna hijau. Yang saya kerjakan waktu itu adalah hanya menotol ⅓ dan lebih sedikit bagian atas cangkir dengan warna cream dan ⅔ dan lebih sedikit bagian bawah cangkir dengan warna hijau. Efek buih-buih yang diinginkan tidak tercapai huhu.

  • Mangkok Kecil

Mangkok ini adalah karya pertama yang saya buat. Pertama kali mencoba teknik throwing untuk membuat sebuah produk. Saya lupa juga karena apa, tapi mangkok ini mleyot sedikit. Kemungkinan besar ya karena jari saya tidak stabil. Sempat ditawarkan untuk bikin yang baru oleh Mas Sidik, instruktur saya, tapi saya tolak hehe. Saya mau simpan sebagai pengingat kalau mangkok mleyot ini adalah karya pertama, dan membuat sesuatu selalu perlu proses, perlu waktu.

Pada saat trimming, proses trimming dilakukan sebelum bakar biskuit, Mas Sidik menjelaskan bermacam-macam kaki mangkok. Bagian bawah mangkok, gelas, cangkir, piring, dll. Seru juga karena hal ini jarang saya perhatikan sebelumnya. Besok-besok saya pasti jadi ngeliatin pantat mangkok, gelas, piring, dll. 

Saya memutuskan untuk memahat garis lurus sekeliling bibir mangkok, asal-asalan aja. Ketika memahat, saya berpikir, lain kali, saya mau bikin pahatan motif bunga matahari atau padi, ah. Pahatan saya cat warna biru kehijauan. Setelah di trimming dan pahat, dilakukan proses firing pertama (sekitar 6 jam). Setelah bakar biskuit, saya melakukan dekorasi lagi. Bagian luar mangkok, dibiarkan warna natural dan di glaze transparan glossy. Sedangkan bagian dalam mangkok diberikan glaze putih (atau diwarnai underglaze putih dan di glaze transparan ya? Saya lupa).

Teknik Pinching

  • Gelas Ngombe

Gelas ini dibuat oleh Mas Sidik, ketika dia mencontohkan teknik pinching untuk pembuatan gelas atau cangkir. Karya yang saya buat berdampingan dengan itu adalah si Gelas Kuda Nil hehe. Proses merapikan, saya yang mengerjakan, menggunakan spons yang dibasahi sedikit. Tidak dilakukan trimming, agar pijatan-pijatan jari teknik pinching tetap terlihat. 

Ketika proses dekorasi, saya sebetulnya agak bingung mau diapakan. Bagian dalam di-glaze/atau diwarnai warna cream. Bagian luar dibiarkan warna natural. Saya sempat terpikir mau tulis kata “Haus”, tapi kemudian Mas Santos nyeletuk: “Ngombe” dan disetujui dengan: “lucu juga!” oleh Bulan. Jadilah gelas itu ditulis kata “Ngombe” di bagian depan dan digambar bentuk hati warna merah di bagian belakangnya. 

  • Gelas Kuda Nil

Haha gelas ini sebetulnya agak kasihan. Setelah jadi, dan sempat saya masukkan IG story (saya pakai minum susu cokelat), ada beberapa orang yang bilang: lucu banget, gemas, atau kasih icon love atau ketawa. Sedangkan, kebalikannya, beberapa teman saya yang lihat langsung, responnya adalah: “ini asbak?”; “kuda nilnya lucu tapi kenapa gelasnya kurang bagus?”; “ini gimana toh gelasnya, nanti kalau mau ngaduk minuman gimana?”. Saya senang sekali terima beragam respon kaya gitu. Tapi tapi tapi … kamu yang sabar yaaaa, Nil.

Jadi, gelas kuda nil ini terinspirasi dari salah satu teman di Inggris, dia punya gelas dengan kuda nil di dalamnya. Ketika itu, saya minum dan kaget ‘menemukan’ ada sesuatu di dalam cangkir. Kejutan yang menyenangkan! Pengalaman itu berkesan sekali, jadi saya memang niat mau bikin dan punya gelas kuda nil juga.

Kuda nil-nya dibuatkan oleh Mas Sidik, karena saya tidak bisa buat haha. Bagian dalam di glaze abu-abu. Bagian luarnya di glaze hitam.  Metodenya yang tuang atau celup saja. Koreksi saya untuk gelas ini adalah, lain kali mungkin gelas atau cangkirnya harus lebih besar atau tinggi sedikit. Dengan gelas ini, kalau minuman tinggal sedikit, kuda nil nya sukses menyentuh hidung saya ketika saya mengangkat gelas untuk minum. 

  • Tempat Sabun bentuk Ikan

Dari semua karya yang saya buat, tempat sabun ikan ini yang paling jelas di bayangan saya produk akhirnya seperti apa. Oleh sebab itu, proses pembuatan berjalan lancar sekali. Tempat sabun ini dibuat dengan teknik lempeng (slab). Seperti bikin kue, bikinnya pakai roll kayu. Setelah itu, lempengan dicetak berdasarkan gambar ikan yang saya buat di kertas, dan dipotong. Setelah dipotong, dengan mangkok, lempengan itu dibentuk lekuk. Dibuat melekuk seperti mangkok. 

Saya gambar dengan pensil sisik-sisik ikan, ketika menggambar diberikan tekanan, supaya ada teksturnya sedikit. Tempat sabun ini satu-satunya karya saya yang diwarnai dengan teknik engobe (eh, atau yang mangkok juga ya?), umm.. sebetulnya saya belum terlalu paham. Intinya proses pewarnaan dilakukan sebelum pembakaran pertama, dan ketersediaan warnanya cuma sedikit, jika dibandingkan dengan pewarnaan setelah proses pembakaran pertama. Tempat sabun ikan ini, prosesnya kurang lebih seperti ini: dibentuk, didekorasi dan diwarnai, dilakukan pembakaran pertama, di-glaze transparan, pembakaran kedua, selesai.

Itu dia review-review tipis karya hasil ikutan kelas keramik di Buntari Studio Yogya. Saat ini saya sudah mengambil kelas lagi di Buntari ehehehe, kali ini ambil kelas throwing lagi. Saya sengaja membuat barang-barang yang saya perlukan di rumah, jadi kali ini membuat milk jug kecil dan teko teh (dengan infuser). Next-nya mungkin mau ambil kelas pinching, gimana dong saya tidak bisa memilih antara dua teknik itu mana yang lebih saya sukai. 🙂

Kamu sudah pernah ikutan kelas pottery? Gimana pengalaman kamu? Kamu waktu itu bikin apa?

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply