General Tips

Road to get KITAS Indonesia: Penyatuan Keluarga VITAS 317

September 27, 2019

Pasti bukan saya doang yang awalnya bingung dengan beberapa istilah ini: VITAS, ITAS, KITAS, ITAP dan KITAP? Hahaha … Yuk bahas itu dulu aja ya, sebelum melangkah ke cerita dan tips untuk pengurusan ITAS sponsor istri/suami. Ohya, dulu tahun 2013, suami saya mengurus KITAS tapi apparently prosedurnya sedikit berbeda. Dia tidak perlu lagi pergi ke beberapa kantor imigrasi di Jakarta dan proses sekarang (di 2019) jauh lebih efisien.

Pemahaman istilah:

VITAS: Visa Tinggal Terbatas. Lihat situs imigrasi tentang VITAS.
Orang Asing yang berencana untuk tinggal dalam waktu yang relatif lebih lama, atau juga berencana akan melaksanakan kegiatan sebagaimana: Bekerja, Investasi, Riset, Belajar, Penyatuan Keluarga (Index 317), Repatriasi, sebagai Wisatawan Lanjut Usia Mancanegara dapat memilih jenis visa ini.

Ini adalah langkah awal untuk mendapatkan ITAS. Suami saya harus memiliki VITAS terlebih dahulu yang setelahnya dialihstatuskan ke ITAS. Sebelumnya, seingat kami, suami saya alih status dari visa sosial budaya ke ITAS. Pada tahun 2013, kami tidak melewati proses VITAS dulu. Nyatanya, ada beberapa jenis visa sosial budaya (surprise!) dan visa sosial budaya suami saya adalah yang tidak bisa dialihstatuskan, jadi kami harus urus VITAS terlebih dahulu. Di situs imigrasi dituliskan: “Foreigners who enter the Indonesian territory with the limited stay visa (VITAS) or convert from a visit permit (B211 index visa)”.

KITAS/ITAS: (Kartu) Izin Tinggal Terbatas. Lihat situs imigrasi tentang ITAS. Izin tinggal yang berlaku satu tahun.

KITAP/ITAP: (Kartu) Izin Tinggal Tetap. 
Untuk sekarang ini, karena kemungkinan besar kalian baca ini karena lagi mau urus ITAS, gak perlu dibahas dulu. Sama saja seperti ITAS, dengan masa berlaku 5 tahun. Bisa diajukan (ITAS alih status ke ITAP) jika usia pernikahan sudah di atas 2 tahun. Ini adalah artikel yang cukup lengkap tentang alih status ITAS ke ITAP. Kemungkinan ada perubahan pada prosesnya, tapi secara garis beras pasti mirip-mirip.

Ada banyak tipe VITAS (beda-beda tipis persyaratannya), saya hanya akan membahas VITAS 317 untuk mendapatkan ITAS Sponsor Istri/Suami WNI.

Urusan birokrasi emang kadang ‘terkesan’ ribet, TAPI seringkali jatuhnya gak ribet-ribet amat kok, beberapa bahkan sangat managable. Biasanya kesan ribetnya ini dikarenakan tidak ada step by step-nya yang jelas, dan mungkin kalaupun ada, banyak yang bias dan membingungkan. Masalah lainnya adalah, tidak ada yang dengan mudah bisa ditelepon untuk ditanya ini itu ketika kita bingung dengan tools atau dokumennya.

Oh! Satu hal lagi, kadang dalam satu institusi itu bisa beda loh informasinya. Loh kok loh kok? Saya juga sejujurnya bingung, tapi let’s see this from a better perpective … saya pikir Imigrasi adalah salah satu institusi pemerintah yang telah berubah ke arah yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Jadi mungkin, masalah sosialisasi diantara pegawai saja belum maksimal, atau hal internal lain yang mudah-mudahan kedepannya bisa makin cihuy!

An overview of the process:

  • Penjamin (istri/suami WNI) mengajukan permohonan online VITAS. Permohonan juga bisa dilakukan oleh Orang Asing
  • Mendapatkan VITAS di Kantor Perwakilan Republik Indonesia yang dipilih
  • Orang Asing masuk ke Indonesia
  • Orang Asing lapor ke Kantor Imigrasi domisili Orang Asing dan sesuai KTP penjamin. Mengisi form ITAS secara online
  • Submit dokumen (termasuk paspor Orang Asing) ke kantor Imigrasi
  • Pengambilan foto dan data biometric Orang Asing
  • Bayar secara online
  • Pengambilan paspor ITAS di kantor Imigrasi. Hore dapat ITASnya! Step by step jelasnya ada di bawah  ya.

Saya kepikiran bikin tulisan ini untuk (mudah-mudahan) bisa membantu proses aplikasi VITAS yang akan dialihstatuskan menjadi KITAS/ITAS (dan pemberitahuan bahwa visa sosial budaya 211A tidak bisa dialihstatuskan ke KITAS/ITAS). Teruntuk orang-orang Indonesia yang menikah dengan warga negara asing (semangat!). Sebelum saya sampaikan dokumen apa saja yang diperlukan, step-stepnya dan beberapa tips biar aplikasinya mulus lancar, ada dua cerita zonk yang ingin saya bagikan. Semoga bisa jadi pelajaran.

Zonk pertama

Suami saya mengurus visa sosial budaya di Singapura. Rencana awal (seperti yang sebelumnya kami lakukan di 2013), visa ini akan dialihstatuskan ke KITAS/ITAS. Tapi, setelah kita sampai di Imigrasi Jakarta Timur, pihak Imigrasi menyampaikan bahwa visa sosial budaya yang ini tidak bisa dialihstatuskan, karena tidak ada kode IMI-bla bla bla.

Kami baru tahu kalau visa sosial budaya ada beberapa jenis dan ada yang tidak bisa dialihstatus ke KITAS/ITAS. Visa yang waktu itu suami saya miliki adalah visa 211 A. Visa 211 A adalah visa kunjungan yang tidak memiliki Persetujuan Direktur Jenderal Imigrasi, maka tidak bisa dialihstatuskan. Kalau visa sosial budaya yang memiliki Persetujuan Direktur Jenderal Imigrasi di dalamnya, baru bisa dialihstatuskan. Agak membingungkan memang, intinya don’t apply for the visa 211 A kalau tujuannya mau dialihstatuskan. Itu zonk pertama.

Zonk kedua

Kami dengan santainya memilih KBRI Pnomh Penh untuk mengambil VITAS-nya. Hal ini karena saya belum pernah ke Kamboja dan sekalian jalan-jalan ke sana (plus ada direct flight juga dari Jakarta ke Pnomh Penh). Dikatakan bisa diambil di mana saja asalkan KBRI tersebut ada di daftar KBRI yang bisa dipilih ketika kita melakukan aplikasi online. Dikatakan bahwa tidak perlu print dokumen apapun, tinggal bawa telex (pemberitaan approval permohonan) dan KBRI akan mengeluarkan VITAS tersebut. Oh ternyata tidak semudah itu Ferguso! Hahaha.

Kenyataan yang saya alami di KBRI Pnomh Penh, kami diharuskan menyerahkan beberapa dokumen seperti:

  • Mengisi form (oke ini wajar)
  • Melampirkan salinan buku nikah (dokumen ini sudah di-upload dan dikatakan oleh pihak Imigrasi Jakarta tidak perlu ada yang di print, tapi ya udah gpp saya bawa buku nikah kok, bisa di copy aja)
  • Copy passport (oke gampang)
  • Bukti punya dana yang mencukupi untuk cover biaya hidup (duh, ini mah sama aja kaya apply lagi dari awal dong semua dokumennya *cry*). Sebetulnya tidak masalah juga untuk coba memenuhi permintaan tersebut. Tapi … ada beberapa kendala lain:

(1) dikatakan oleh KBRI Pnomh Penh bahwa proses ini bisa jadi memakan waktu 3-5 hari kerja. Padahal yang ada dibayangan saya adalah dokumen sudah di-submit semua secara online dan persetujuan sudah didapat, di KBRI hanya akan mengambil VITASnya saja. Jadi berdasarkan ini, pasti ada beberapa orang yang tidak merencanakan untuk tinggal lama untuk urus hal ini. Bahkan mungkin cuma spare 1-2 hari saja. Dan kami tidak punya waktu sebanyak itu di Phomh Penh.

(2) rekening koran yang diminta bisa saya lampirkan, karena toh sebelumnya sudah saya submit online. Saya menyampaikan bahwa saya akan lampirkan rekening koran saya karena dokumen itu adalah dokumen yang sudah disubmit dan aplikasinya sudah disetujui. Lalu Bapak di KBRI berkata, “Ya tidak bisa dong. Dokumen keuangannya harus atas nama suami, kan ini keluarga, ya harusnya pihak lelaki yang mensupport keluarga ini“. Yhaaaa … di titik ini lah, saya memutuskan untuk ‘pamit’ dari KBRI Pnomh Penh dan mengganti KBRI menjadi KBRI Hanoi. Hehe. Nalar saya tidak bisa mengerti pola pikir Bapak yang saya temui di KBRI Pnomh Penh karena jelas dicantumkan di situs imigrasi kalau bebas saja antara rekening penjamin atau orang asing untuk dilampirkan.

Siapkan dokumen-dokumen berikut:

  1. Buku rekening tabungan penjamin atau Orang Asing (saldo minimal setara USD 1,500, sekitar Rp21,000,000)
  2. Surat permohonan dan jaminan di atas materai. Harap melampirkan Surat Permohona dan Jaminan yang ditujukan ke: Direktur Lalu Lintas Keimigrasian. U.P Kasubdit Visa. Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 8-9 Jakarta Selatan
  3. Halaman biodata pasport min. 18 bulan
  4. Sampul paspor
  5. Untuk yang menikah dengan Warga Negara Indonesia (Index 317): Copy Akta Nikah#

Step-stepnya untuk VITAS dan ITAS:

  1. Buka website ini: https://visaonline.imigrasi.go.id/online/. Kalau belum punya akun, registrasi dulu. Klik tab registrasi. Harap diingat registrasi penjamin hanya dapat dilakukan pada pukul 08:00 – 16:00 pada hari kerja.
  2. Isi dan upload semua dokumen yang disyaratkan online.
    Berikut adalah beberapa poin yang waktu itu saya bingung untuk mengisinya, mudah-mudahan bisa membantu:
    – Jenis Visa: PERSETUJUAN VISA TINGGAL TERBATAS
    – Maksud Kedatangan/Tujuan: PENYATUAN KELUARGA
    – Indeks: 317
    – Lokasi Perwakilan RI untuk pengambilan VISA: pilih yang mau dituju
    – Jangka waktu tinggal sampai dengan: 6 BULAN –> pilih saja 1 tahun karena pada kenyataannya kami isi 6 bulan, cuma di Hanoi diberikan 1 tahun.
    – Deskripsikan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Orang Asing: PENYATUAN KELUARGA. MENIKAH DENGAN WNI.
  3. Penjamin membayar biaya kawat (Rp200,000). Bayar online, saya pakai KlikBCA. Pajak Penerimaan Negara dan tinggal input kode billing yang sudah disediakan.
  4. Disetujui (jika disetujui) dan akan mendapat email dengan surat persetujuan visa, dan persetujuan ini dikirim ke KBRI yang dipilih.
  5. Orang Asing datang ke KBRI yang dipilih dengan surat persetujuan visa dan melakukan pembayaran (USD 165).
  6. Setelah memperoleh visa, Orang Asing ke Indonesia dan melapor ke kantor Imigrasi setempat (dikatakan harus lapor max 3 hari setelah kedatangan di Indonesia).
  7. Mengisi form ITAS secara online.
  8. Submit dokumen (termasuk paspor Orang Asing) ke kantor Imigrasi.
  9. Pengambilan foto dan data biometric Orang Asing (2-3 hari setelah dokumen disubmit, pihak imigrasi akan informasikan tanggalnya ketika penyerahan dokumen).
  10. Bayar secara online (Rp2,500,000: 1 juta untuk multiple entry permit dan 1,5 juta untuk ITASnya). Saya pakai KlikBCA. Pajak Penerimaan Negara dan tinggal input kode billing yang sudah disediakan. ITAS akan jadi setelah 3 hari kerja
  11. Izin Tinggal Terbatas diterbitkan. Pengambilan paspor (dengan ITAS di dalamnya) di kantor Imigrasi. Pengambilan hanya bisa dilakukan jam 11 sampai 3 sore.

Biaya yang dikeluarkan:

  • Biaya kawat: Rp200,000; dibayarkan online (saya pakai klikBCA).
  • Biaya VITAS: USD 165; dibayarkan di KBRI yang dikehendaki. Bayarnya di bank sih, nanti di KBRI akan diberikan kertas berisi alamat bank dan rincian lainnya untuk melakukan pembayaran.
  • Biaya ITAS dan mutiple entry: Rp2,500,000; dibayarkan online (saya pakai klikBCA).

Note: Ada ketidaksesuaian soal biaya antara website dengan kenyataan yang terjadi untuk biaya kawat dan biaya VITAS, tapi ya mungkin situs saja yang belum update.

Tips:

  • Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, jangan lupa sebelum memilih KBRI mana yang akan dituju, sebaiknya ditelpon/di-email dulu ke sana untuk memastikan bahwa KBRI tersebut aware dengan hal ini dan apa saja dokumen yang dibutuhkan untuk pengambilan VITAS dan waktu yang diperlukan. Ketika di KBRI Hanoi, kami hanya membawa print out telex, mengisi form, menyerahkan pas foto suami 1 lembar 3×4 dan membayar biaya USD 165. Selesai dalam 1 hari alias bisa ditunggu. Saya menilai KBRI Hanoi sangat koperatif.
  • Sebaiknya spare 1-2 hari walaupun diharapkan bisa selesai dan diambil di hari yang sama. Untuk jaga-jaga ada masalah teknis.
  • Sebelum ngisi aplikasinya secara online, ada baiknya semua dokumen disiapkan dulu, dalam format JPG ya. Dengan ukuran file 150-200 kb.

Segitu dulu kali ya 🙂 Ini ada dua blog yang saya jadikan acuan ketika saya mengurus VITAS untuk suami saya, barangkali ada informasi lain yang kalian tidak dapatkan di sini, bisa coba tengok dua tulisan ini: (1) Indonesian-Brazilian couple, Mbak Retno Lantika: Cara apply VITAS 317, (2) Desi Sachiko: Cara mengurus KITAS sponsor suami/istri WNI.

Semoga bermanfaat dan semoga urusan aplikasi VITAS dan ITAS-nya lancar!

No Comments

Leave a Reply