General Tips

Perkara Uang Ketika Jalan-Jalan

January 3, 2020

Hai! Kali ini saya mau bahas soal uang. Wow! Bahas duit! Hehehe … Jangan salah sangka, yang mau dibahas kali ini bukan jawaban dari pertanyaan: “Uangnya dari mana, Kak, kok bisa sering banget travelling?”. Untuk pertanyaan itu, salah satu jawabannya adalah: kerja, menabung dan menjadikan travelling sebagai prioritas.

Jawaban lainnya adalah, coba deh ikut kuis/kompetisi yang hadiahnya jalan-jalan, siapa tahu beruntung. Walaupun jarang ikut kuis, tapi gini-gini saya pernah menang 20 juta loh hadiah dari DBS Bank x KartuPos. Waktu itu saya pakai untuk beli tiket pesawat ke Amerika Selatan! Hehehe lumayan bujet yang awalnya untuk tiket bisa dialokasikan untuk hal-hal lain; seperti makan atau nginap sedikit mewah, dan ikut tur-tur yang agak mahal. Kuisnya waktu itu via IG, dan postingan saya yang ini nih yang bikin saya menang—barangkali saja kamu penasaran.

Persoalan uang yang mau dibahas di sini adalah, serba serbi uang ketika kamu sedang jalan-jalan dan beberapa tips berkaitan dengan hal tersebut. Misalnya, kalau saya travelling selama satu bulan, apa lantas bawa uang tunai (tukar uang di Indonesia) sebanyak yang diperlukan untuk 1 bulan? Tentu saja tidak. Tidak disarankan untuk bawa uang tunai banyak-banyak. Selain repot, hal tersebut juga berbahaya. Bagaimana kalau kita langsung bahas saja? Semoga tulisan ini berguna!

Bawa uang tunai dalam batas wajar untuk jaga-jaga

Biasanya yang saya lakukan adalah membawa uang 100-200 EUR atau USD atau mata uang lain yang populer—tergantung perginya ke mana. 100-200 EUR/USD ini adalah dalam bentuk tunai ya. Hal ini dilakukan tujuannya cuma satu. Untuk jaga-jaga kalau misalnya perlu bayar sesuatu sesampainya di negara tujuan tapi tidak bisa menggunakan kartu debit atau kartu kredit, dan ATM terdekat tidak menerima kartu kita.

Bawa beberapa kartu debit dan satu kartu kredit

Sebagian besar bayar-bayaran ketika saya sedang jalan-jalan di luar negeri, saya lakukan dengan menggunakan kartu debit atau kredit saya. Lebih seringnya, sih, kartu kredit. Misalnya di restoran atau kafe, mereka mayoritas akan charge dengan mata uang lokal. Rate ini lebih baik dari pada rate tarik tunai uang dari ATM. Oh ya, seandainya mereka menyarankan charge dalam mata uang lain, minta untuk di-charge dengan mata uang lokal. Biar pihak bank saja yang melakukan konversi, biasanya lebih menguntungkan untuk kita. Ini juga berlaku untuk tarik tunai di ATM.

Saya biasanya bawa 1 kartu kredit (saya punya 2), dan saya bawa 3 kartu ATM dari bank beda-beda (2 mastercard dan 1 visa) atau paling tidak bawa 2 kartu debit. Kenapa banyak kartu debit? Karena saya pernah mengalami cuma bawa satu kartu debit dan ternyata tidak bisa digunakan untuk tarik tunai di ATM lokal di negara tersebut. Kenapa cuma 1 kartu kredit? Karena saya merasa tidak butuh lebih dari satu untuk kartu kredit dan kalau dua-duanya hilang (amit-amit) saya malas repot ngurusnya.

Saya menyimpan rincian kartu debit dan kredit saya, disertakan dengan nomor telepon dan alamat email pihak bank yang saya harus hubungi jika perlu melakukan pemblokiran kartu.

Tahu tentang nilai tukar sebelum tiba di negara tujuan

Ini gunanya banyak banget. Misalnya, ketika kamu mau beli sesuatu, kamu kurang lebih tahu harganya pantas atau tidak pantas. Banyak sekali barang-barang atau makanan (bahkan kopi di kedai kopi) di area turis, harganya tidak wajar. Melihat wajar atau tidaknya, biasanya saya bandingkan dengan harga di Indonesia, dengan Jakarta atau kota besar lain. Tapi harus diingat juga living cost di negara tersebut bagaimana dibandingkan dengan Indonesia. Ketika kamu tahu pasti harganya berapa dalam rupiah, kamu pasti lebih percaya diri untuk ambil keputusan mau beli atau enggak.

Manfaat yang kedua adalah jadi gak grogi dan gak ketipu kalau tukar uang di perbatasan (atau money changer) atau dalam transaksi lainnya. Waktu itu saya melintasi perbatasan darat Tanzania-Malawi. Banyak calo-calo berkeliaran menawarkan ‘solusi’ menukarkan uang Shilling Tanzania ke Kwacha Malawi, daripada tidak terpakai di Malawi nantinya. Sebetulnya suasananya biasa saja, tapi ya lumayan ramai dan semua orang sibuk bicara. Karena saya sudah tahu nilai tukarnya dari Shilling ke Kwacha, saya luwes saja ketika melakukan transaksi. Ketika kami menunggu untuk angkutan umum ke pusat kota, ada pejalan asal Hong Kong yang cerita kalau dia kena tipu.

Foto atas: ATM yang menyatu dengan bank. Foto bawah: Euronet nyempil di beberapa tempat di Budapest.

Soal ambil uang di ATM

Paling gampang memang bayar-bayar pakai kartu kredit atau debit saja, tapi pada kenyataannya ada beberapa negara yang sistem pembayaran lebih banyak pakai uang tunai. Jadi, pasti akan ada momen di mana kita perlu tarik tunai dari ATM di negara tujuan. Nah, perkara ATM ini agak tricky. Hal pertama yang harus diingat adalah, sebisa mungkin ambil uang dari ATM yang nempel sama Bank. Hindari ATM yang nempel sama Money Changer, walaupun ada beberapa yang fee/rate-nya masih ok. Dan waspadai juga ATM-ATM yang nyempil tiba-tiba muncul di area ramai turis.

Waktu di Hallstatt Austria, saya kepepet perlu uang tunai untuk bayar bus balik ke hotel. Lihat sekitar dan ternyata cuma ada satu ATM di supermarket, walaupun saya sudah curiga kalau nilai tukarnya jelek dan saya sudah merasa aneh dengan si ATM yang menyatakan “no fee”, tetap saya tarik tunai saja. Saya berbagi ceritanya di Twitter. Saya pakai kartu debit Jenius, dan ini memang si ATMnya kurang ajar. Legal robbery ini mah namanya. Jadi tarik tunai 200 Euro, setelah dilihat dan dihitung nilai tukarnya, saya kena charge 240 Euro oleh ATM tersebut. Jadi no fee yang disebutkan itu bohong karena kenyataannya saya kena fee 40 Euro. Terpaksa deh, sebagai gantinya, bujet makan di restoran di potong. Haha.

Di Budapest Hungaria, ATM-ATM yang nyempil ini biasanya punya Euronet. Aselikkk banyak banget di mana-mana. Kalau kamu tarik tunai di ATM Euronet, kasusnya akan mirip seperti kejadian saya di Hallstatt. Jadi sebaiknya hindari. Oh ya, ATM di Hallstatt, rasanya tidak ada tulisan/logo Euronet, tapi saya ingat ada tulisan Bankomat. Basically, “No Charge Fee” atau “More Better Rates” adalah dua kalimat yang mesti diwaspadai. Kalau kata-kata ini tercetak di ATM atau muncul di layar, lebih baik cari ATM lain saja. Because when it is too good to be true then it is.

Saya juga pernah iseng bandingin rate dua kartu debit saya dari dua bank berbeda. Menarik juga karena rate Jenius ternyata bagus, tapi kayanya harus coba lagi untuk tes iseng seperti ini. Kalau mau hasilnya, ada di Twitter ya.

Oh ya, di Istanbul Turki, saya menemukan satu ATM yang agak aneh. Singkat cerita, ATM ini berusaha menawarkan apakah saya mau di charge dalam Turkish Lira atau USD (padahal saya sudah pilih mata uang yang mau saya ambil adalah Turkish Lira) untuk penarikan yang akan saya lakukan di mesin tersebut. Tentunya saya pilih Turkish Lira, dan tertera bahwa akan ada ATM fee sebesar 15 Turkish Lira (sekitar Rp35,000), masih wajar menurut saya. Sementara kalau saya pilih USD, rasanya mereka (kalau saya tidak salah ingat), menetapkan feenya adalah 3,99%, yang pada akhirnya akan lebih mahal dan mungkin kamu akan kena exchange rate aneh juga. Jadi, kalau menggunakan ATM di luar negeri, santai saja, tidak usah buru-buru supaya gak salah pilih opsi.

Di Budapest, ada banyak sekali karya seni seperti ini bertebaran.

Ngirit ketika jalan-jalan

Pos pengeluaran travelling bisa dibagi menjadi beberapa hal di bawah ini:

  • Transportasi besar (tiket pesawat/kereta/bus di awal dan di akhir)
  • Biaya visa (jika ada)
  • Asurasi perjalanan
  • Akomodasi
  • Transportasi lokal
  • Tiket masuk tempat wisata/ikut tur
  • Biaya makan harian
  • Lainnya (seperti belanja untuk diri sendiri, untuk souvenir keluarga atau teman terdekat, dll)

Satu cara paling ampuh untuk lebih hemat ketika jalan-jalan adalah dengan riset. Iya, kalau kamu memang tidak punya bujet banyak untuk jalan-jalan, sebisa mungkin kumpulkan informasi yang banyak tentang banyak hal, contoh:

  • Apa yang kamu mau lakukan di sana? Susun itinerary atau rencana perjalanan yang baik. Jangan bolak balik, karena ini berpotensi bikin jadi boros di biaya transportasi.
  • Apakah ada Tourist Pass/Museum Pass atau lainnya? Kalau kamu berencana mengunjungi beberapa tempat wisata di satu kota, biasanya mereka ada paketannya ,jadi lebih murah.
  • Apakah ada Transport Pass? Berapa lama kamu akan berada di sana, apakah akan mondar-mandir atau enggak? Intinya, masuk akal atau tidak untuk beli Pass tersebut.
  • Apakah sebaiknya cari akomodasi di pusat kota atau di luar pusat kota? Pertimbangannya biasanya kembali lagi ke lokasi-lokasi yang kamu mau kunjungi. Apakah lebih masuk akal tinggal di pusat kota? Biasanya di pusat kota lebih mahal, dan di luar pusat kota lebih murah, tapi akan ada biaya transportasi. Perlu dicari tahu apakah bisa naik bus atau perlu taksi, atau mungkin bisa jalan kaki saja.
  • Apakah tiket wisata ke tempat tersebut sama saja antara hari kerja dengan hari libur? Apakah ada tempat yang bagus untuk dikunjungi tapi tanpa tiket masuk/gratis?

Dan banyak hal lainnya yang bisa kamu cari tahu supaya bisa irit di sana sini. Memang PR sih, tapi ya memang begitu caranya untuk bisa lebih irit, harus riset 🙂  Oh ya, untuk urusan makan, biasanya saya suka melipir keluar sedikit dari area turis. Biasanya makanan harganya lebih murah dan enak juga. Kalau kalian menginap di Airbnb, kalian bisa minta rekomendasi restoran dari host kalian.

Tentukan bujet harian. Kecuali duit kamu gak terbatas haha

Saya paling susah untuk track spending, karena malas nyatetnya—jangan dicontoh ya hehe. Untuk saya, lebih baik untuk menentukan bujet harian. Misalnya, saya jalan berdua dengan suami saya, bujet hariannya max 75 USD berdua. Hotel kami hari itu misalnya 35 USD, jadi kita ada sekitar 40 USD untuk diutak-atik untuk makan, tiket masuk tempat wisata, dan juga transportasi. Selama jalan di Eropa (saat ini saya sedang di Budapest), kami irit sekali dibiaya transportasi lokal, karena kami hobinya jalan kaki ke mana-mana. Selain itu biasanya kami belanja di supermarket dan masak sendiri untuk makan malam. Sarapan juga biasanya sereal atau roti di Airbnb.

Kalau kamu travelling jangka panjang, misalnya travelling sebulan, dua bulan, atau bahkan setahun, penting sekali untuk disiplin soal bujet harian kalian. Karena kalau tidak disiplin, nanti boncos di tengah jalan hehe. Kami pernah beberapa kali melebihi bujet harian yang sudah ditentukan, menurut saya gpp asalkan jangan keseringan. Misalnya ada tur yang memang kalian pengin ikuti, ya ikut saja (kalau bujetnya ada). Jangan lupa ngirit-ngirit di beberapa hari sebelumnya dan setelahnya untuk tetap sebisa mungkin di koridor bujet harian yang sudah ditentukan.

Jaga dompet dengan baik

Saya mengikuti saran orang-orang untuk menaruh uang (dan kartu-kartu) di dua tempat berbeda. Jadi ada dua tempat penyimpanan berbeda, yaitu: 1 pouch dan 1 dompet. Akan tetapi dua-duanya saya taruh di tas yang sama hahaha. Sama aja gak sih? Well … intinya, sebisa mungkin selalu waspada dengan dompet dan barang berharga kalian lainnya (termasuk dokumen perjalanan).

Itu aja bahasan tentang mengelola uang selama jalan-jalan. Terima kasih sudah baca sampai akhir! Oh ya, satu lagi, sebisa mungkin jangan jalan-jalan dengan cara ngutang. Kalau kamu kurang pintar untuk bikin bujet, mungkin bisa minta bantuan teman atau kakak/adik untuk jadi ‘pengawas’. Selain itu, cara lain yang bisa dilakukan adalah, coba ikut open trip. Banyak penyedia wisata yang bisa membantu kamu dengan program cicilan yang sudah selesai sebelum kamu berangkat (plis jangan ikut yang menyisakan utang di akhir perjalanan). Dan jangan lupa cari penyedia paket wisata yang terpercaya ya.

Btw, kalau ada yang mau kamu tambahin, atau mungkin ada yang mau ditanyakan? Monggo ya! Barangkali bisa jawab 🙂 dan menambah informasi untuk kita semua.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply